Latest Post

BERCINTA SEKS DENGAN TUKANG PIJAT PUAS ENAK DAN CAPEK


Sebuah kisah bercinta atau ngentot (ML) dengan pekerja

salon (terapis) yang mana menyediakan jasa pijat dan

lalu karena nafsu berakhir dengan hubungan seks. Simak

kisah lengkapnya berikut ini!

Jakarta yang panas membuatku kegerahan di atas

angkot. Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokan

depan, kurang lebih 100 meter lagi. Tetapi aku masih

betah di atas mobil ini. Angin menerobos dari jendela.

Masih ada waktu bebas dua jam. Kerjaan hari ini sudah

kugarap semalam. Daripada suntuk diam di rumah, tadi

malam aku menyelesaikan kerjaan yang masih

menumpuk. Kerjaan yang menumpuk sama

merangsangnya dengan seorang wanita dewasa yang

keringatan di lehernya, yang aroma tubuhnya tercium.

Aroma asli seorang wanita. Baunya memang agak lain,

tetapi mampu membuat seorang bujang menerawang

hingga jauh ke alam yang belum pernah ia rasakan.

“Dik.., jangan dibuka lebar. Saya bisa masuk angin.” kata

seorang wanita setengah baya di depanku pelan.

Aku tersentak. Masih melongo.

“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.

“Ini..?” kataku.

“Ya itu.”

Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di

telingaku di atas ranjang yang putih. Keringatnya

meleleh seperti yang kulihat sekarang. Napasnya

tersengal. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi,

setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil

tempat duduk.

“Terima kasih,” ujarnya ringan.

Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan

lagi, sehingga tidak perlu curi-curi pandang melirik

lehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehingga

terlihat garis bukitnya.

“Saya juga tidak suka angin kencang-kencang. Tapi saya

gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.

Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot

dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Kalau kini

aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena

peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku

terlalu terbuai lamunan. Ia malah melengos. Sial. Lalu

asyik membuka tabloid. Sial. Aku tidak dapat lagi

memandanginya.

Kantorku sudah terlewat. Aku masih di atas angkot.

Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku.

Masih menutupi diri dengan tabloid. Tidak lama wanita

itu mengetuk langit-langit mobil. Sopir menepikan

kendaraan persis di depan sebuah salon. Aku perhatikan

ia sejak bangkit hingga turun. Mobil bergerak pelan, aku

masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana

arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Ia

tersenyum. Menantang dengan mata genit sambil

mendekati pintu salon. Ia kerja di sana? Atau mau

gunting? Creambath? Atau apalah? Matanya

dikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain di

belakang angkot. Sial. Dadaku tiba-tiba berdegup-

degup.

“Bang, Bang kiri Bang..!”

Semua penumpang menoleh ke arahku. Apakah suaraku

mengganggu ketenangan mereka?

“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir

menggerutu sambil memberikan kembalian.

Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat.

Satu dua, satu dua. Yes.., akhirnya. Namun, tiba-tiba

keberanianku hilang. Apa katanya nanti? Apa yang aku

harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya

apa? Mendadak jari tanganku dingin semua. Wajahku

merah padam. Lho, salon kan tempat umum. Semua

orang bebas masuk asal punya uang. Bodoh amat. Come

on lets go! Langkahku semangat lagi. Pintu salon

kubuka.

“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon,

“Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”

“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.

Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Ada sekat-sekat,

tidak tertutup sepenuhnya. Tetapi sejak tadi aku tidak

melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi

mengerlingkan mata ke arahku. Ke mana ia? Atau

jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-

pura masuk. Ah. Shit! Aku tertipu. Tapi tidak apa-apa

toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.

Dulu aku paling anti masuk salon. Kalau potong rambut

ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Ah.., wanita yang

lehernya berkeringat itu begitu besar mengubah

keberanianku.

“Buka bajunya, celananya juga,” ujar wanita tadi manja

menggoda, “Nih pake celana ini..!”

Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi.

Bahannya tipis, tapi baunya harum. Garis setrikaannya

masih terlihat. Aku menurut saja. Membuka celanaku dan

bajuku lalu gantung di kapstok. Ada dipan kecil

panjangnya dua meter, lebarnya hanya muat tubuhku

dan lebih sedikit. Wanita muda itu sudah keluar sejak

melempar celana pijit. Aku tiduran sambil baca majalah

yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu.

Sekenanya saja kubuka halaman majalah.

“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke

balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima

kedatanganku.

“Mbak Wien.., udah ada pasien tuh,” ujarnya dari ruang

sebelah. Aku jelas mendengarnya dari sini.

Kembali ruangan sepi. Hanya suara kebetan majalah

yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik

lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di

langit-langit ruangan.

Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-

pletok. Makin lama makin jelas. Dadaku mulai berdegup

lagi. Wajahku mulai panas. Jari tangan mulai dingin. Aku

makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.

“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Hah..? Suara itu lagi.

Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku

menutup kaca angkot. Dadaku berguncang. Haruskah

kujawab sapaan itu? Oh.., aku hanya dapat menunduk,

melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari di

ruangan sempit itu. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu

halus. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Hitam.

Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.

“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil

majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”

Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas

punggungku. Aku tersetrum. Tangannya halus. Dingin.

Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas

kulit punggung. Lalu pijitan turun ke bawah. Ia

menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku

tersentuh. Ia menekan-nekan agak kuat. Aku meringis

menahan sensasasi yang waow..! Kini ia pindah ke paha,

agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Aku

meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Tapi belum

begitu lama ia pindah ke betis.

“Balik badannya..!” pintanya.

Aku membalikkan badanku. Lalu ia mengolesi dadaku

dengan cream. Pijitan turun ke perut. Aku tidak berani

menatap wajahnya. Aku memandang ke arah lain

mengindari adu tatap. Ia tidak bercerita apa-apa. Aku

pun segan memulai cerita. Dipijat seperti ini lebih

nikmat diam meresapi remasan, sentuhan kulitnya.

Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita.

Dari perut turun ke paha. Ah.., selangkanganku disentuh

lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.

Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskan

cream. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Kuusap

sisa cream. Dan kubuka celana pantai. Astaga. Ada

cairan putih di celana dalamku.

Di kantor, aku masih terbayang-bayang wanita yang di

lehernya ada keringat. Masih terasa tangannya di

punggung, dada, perut, paha. Aku tidak tahan. Esoknya,

dari rumah kuitung-itung waktu. Agar kejadian kemarin

terulang. Jam berapa aku berangkat. Jam berapa harus

sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang

penuh gelora itu. Ah sial. Aku terlambat setengah jam.

Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya

ada keringat sudah terbayang. Ini gara-gara ibuku

menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Bayar arisan.

Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Toh masih ada hari

esok.

Aku bergegas naik angkot yang melintas. Toh, si

setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di

salonnya. Aku duduk di belakang, tempat favorit.

Jendela kubuka. Mobil melaju. Angin menerobos

kencang hingga seseorang yang membaca tabloid

menutupi wajahnya terganggu.

“Mas Tut..” hah..? suara itu lagi, suara wanita setengah

baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada

keringat di lehernya. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Aku tersenyum. Ia tidak membalas tapi lebih ramah.

Tidak pasang wajah perangnya.

“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid

menutupi wajahnya.

Begitu kebetulankah ini? Keberuntungankah? Atau

kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi

wajah? Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu

angkot dengannya. Atau jangan-jangan ia juga disuruh

ibunya bayar arisan. Aku menyesal mengutuk ibu ketika

pergi. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh

bayar arisan.

“Mbak Wien..,” gumamku dalam hati.

Perlu tidak ya kutegur? Lalu ngomong apa? Lha wong

Mbak Wien menutupi wajahnya begitu. Itu artinya ia

tidak mau diganggu. Mbak Wien sudah turun. Aku masih

termangu. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing.

Dari atas: Turun. Ke bawah: Tidak. Ke bawah lagi: Turun.

Ke bawah lagi: Tidak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawah

lagi: Tidak. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis.

Mengapa kancing baju cuma tujuh?

Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian

lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di

sebelahku juga bisa. Begini saja daripada repot-repot.

Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing

bajuku: Tujuh. Sekarang hitung penumpang angkot dan

supir. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh,

42 hore aku turun. Tapi eh.., seorang penumpang pakai

kaos oblong, mati aku. Ah masa bodo. Pokoknya turun.

“Kiri Bang..!”

Aku lalu menuju salon. Alamak.., jauhnya. Aku lupa

kelamaan menghitung kancing. Ya tidak apa-apa,

hitung-hitung olahraga. Hap. Hap.

“Mau pijit lagi..?” ujar suara wanita muda yang kemarin

menuntunku menuju ruang pijat.

“Ya.”

Lalu aku menuju ruang yang kemarin. Sekarang sudah

lebih lancar. Aku tahu di mana ruangannya. Tidak perlu

diantar. Wanita muda itu mengikuti di belakang.

Kemudian menyerahkan celana pantai.

“Mbak Wien, pasien menunggu,” katanya.

Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Bicara

apa? Ah apa saja. Masak tidak ada yang bisa

dibicarakan. Suara pletak-pletok mendekat.

“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.

Aku tengkurap. Ia memulai pijitan. Kali ini lebih

bertenaga dan aku memang benar-benar pegal,

sehingga terbuai pijitannya.

“Telentang..!” katanya.

Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Paling

tidak aku dapat melihat leher yang basah keringat

karena kepayahan memijat. Ia cukup lama bermain-main

di perut. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian

tepi celana dalam. Tapi belum tersentuh kepala juniorku.

Sekali. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Ia

menyenggol kepala juniorku. Ia masih dingin tanpa

ekspresi. Lalu pindah ke pangkal paha. Ah mengapa

begitu cepat.

Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Si Junior sudah

mengeras. Betul-betul keras. Aku masih penasaran, ia

seperti tanpa ekspresi. Tetapi eh.., diam-diam ia

mencuri pandang ke arah juniorku. Lama sekali ia

memijati pangkal pahaku. Seakan sengaja memainkan Si

Junior. Ketika Si Junior melemah ia seperti tahu

bagaimana menghidupkannya, memijat tepat di bagian

pangkal paha. Lalu ia memijat lutut. Si Junior melemah.

Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Ah sialan. Aku

dipermainkan seperti anak bayi.

Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Tapi mengelap

dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih

menempel di tubuhku. Aku duduk di tepi dipan. Ia

membersihkan punggungku dengan handuk hangat.

Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat. Bau

tubuhnya tercium. Bau tubuh wanita setengah baya

yang yang meleleh oleh keringat. Aku pertegas bahwa

aku mengendus kuat-kuat aroma itu. Ia tersenyum

ramah. Eh bisa juga wanita setengah baya ini ramah

kepadaku.

Lalu ia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkal

paha. Junior berdenyut-denyut. Sengaja kuperlihatkan

agar ia dapat melihatnya. Di balik kain tipis, celana

pantai ini ia sebetulnya bisa melihat arah turun naik Si

Junior. Kini pindah ke paha sebelah kanan. Ia tepat

berada di tengah-tengah. Aku tidak menjepit tubuhnya.

Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Aku

membayangkan dapat menjepitnya di sini. Tetapi,

bayangan itu terganggu. Terganggu wanita muda yang di

ruang sebelah yang kadang-kadang tanpa tujuan jelas

bolak-balik ke ruang pijat.

Dari jarak yang begitu dekat ini, aku jelas melihat

wajahnya. Tidak terlalu ayu. Hidungnya tidak mancung

tetapi juga tidak pesek. Bibirnya sedang tidak terlalu

sensual. Nafasnya tercium hidungku. Ah segar. Payudara

itu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang.

Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Ia terus

mengelap pahaku. Dari jarak yang dekat ini hawa panas

tubuhnya terasa. Tapi ia dingin sekali. Membuatku tidak

berani. Ciut. Si Junior tiba-tiba juga ikut-ikutan ciut.

Tetapi, aku harus berani. Toh ia sudah seperti pasrah

berada di dekapan kakiku.

Aku harus, harus, harus..! Apakah perlu menhitung

kancing. Aku tidak berpakaian kini. Lagi pula percuma,

tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing. Aku harus

memulai. Lihatlah, masak ia begitu berani tadi

menyentuh kepala Junior saat memijat perut. Ah, kini ia

malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku.

Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Kaki

kusandarkan di tembok yang membuat ia bebas

berlama-lama membersihkan bagian belakang pahaku.

Mulutnya persis di depan Junior hanya beberapa jari.

Inilah kesempatan itu. Kesempatan tidak akan datang

dua kali. Ayo. Tunggu apa lagi. Ayo cepat ia hampir

selesai membersihkan belakang paha. Ayo..!

Aku masih diam saja. Sampai ia selesai mengelap bagian

belakang pahaku dan berdiri. Ah bodoh. Benarkan

kesempatan itu lewat. Ia sudah membereskan peralatan

pijat. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku

sekilas. Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja.

Badannya berbalik lalu melangkah. Pletak, pletok,

sepatunya berbunyi memecah sunyi. Makin lama suara

sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak

pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu

hilang.

Aku hanya mendengus. Membuang napas. Sudahlah.

Masih ada esok. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok

terdengar semakin nyaring. Dari iramanya bukan sedang

berjalan. Tetapi berlari. Bodoh, bodoh, bodoh. Eh..,

kesempatan, kesempatan, kesempatan. Aku masih

mematung. Duduk di tepi dipan. Kaki disandarkan di

dinding. Ia tersenyum melihatku.

“Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan,” katanya.

Ia mencari-cari. Di mana? Aku masih mematung. Kulihat

di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.

“Itu kali Mbak,” kataku datar dan tanpa tekanan.

Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia

membersihkan paha bagian bawah. Ini kesempatan

kedua. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Lihatlah ia

tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Apalagi

yang dapat tertinggal? Mungkin sapu tangan ini saja

suatu kealpaan. Ya, seseorang toh dapat saja lupa pada

sesuatu, juga pada sapu tangan. Karena itulah, tidak

akan hadir kesempatan ketiga. Ayo..!

“Mbak.., pahaku masih sakit nih..!” kataku memelas, ya

sebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan duduk

di tepi dipan.

Ia berjongkok mengambil sapu tangan. Lalu memegang

pahaku, “Yang mana..?”

Yes..! Aku berhasil. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.

“Besok saja Sayang..!” ujarnya.

Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Tapi ia masih

berjongkok di bawahku.

“Yang ini atau yang itu..?” katanya menggoda, menunjuk

Juniorku.

Darahku mendesir. Juniorku tegang seperti mainan

anak-anak yang dituip melembung. Keras sekali.

“Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh.”

Ia berdiri. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jari

tangannya. Yes. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah

baya yang meleleh keringatnya di angkot karena

kepanasan. Ia menyentuhnya. Kali ini dengan telapak

tangan. Tapi masih terhalang kain celana. Hangatnya,

biar begitu, tetap terasa. Aku menggelepar.

“Sst..! Jangan di sini..!” katanya.

Kini ia tidak malu-malu lagi menyelinapkan jemarinya ke

dalam celana dalamku. Lalu dikocok-kocok sebentar.

Aku memegang teteknya. Bibirku melumat bibirnya.

“Jangan di sini Sayang..!” katanya manja lalu melepaskan

sergapanku.

“Masih sepi ini..!” kataku makin berani.

Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Ia

menikmati, tangannya mengocok Junior.

“Besar ya..?” ujarnya.

Aku makin bersemangat, makin membara, makin

terbakar. Wanita setengah baya itu merenggangkan

bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata

terpejam.

“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruang

sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.

Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab

telepon.

“Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada

Wien.

Aku mengambil pakaianku. Baru saja aku memasang ikat

pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata,

“Telepon aku ya..!”

Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang

disobek sekenanya. Pasti terburu-buru. Aku langsung

memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-

nomornya. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Ia

tidak lagi dingin dan ketus. Kalau saja, tidak keburu

wanita yang menjaga telepon datang, ia sudah melumat

Si Junior. Lihat saja ia sudah separuh berlutut mengarah

pada Junior. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga

ada alasan buat Wien.

Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar

gembira dari wanita yang menunggu telepon. Ia hanya

menampakkan diri separuh badan.

“Mbak Wien.., aku mau makan dulu. Jagain sebentar

ya..!”

Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.

Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Hari

itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum

ada yang datang, baru aku saja. Aku menanti dengan

debaran jantung yang membuncah-buncah. Wien

datang. Kami seperti tidak ingin membuang waktu,

melepas pakaian masing-masing lalu memulai

pergumulan.

Wien menjilatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya

yang tahu di mana titik-titik yang harus dituju. Aku

terpejam menahan air mani yang sudah di ujung.

Bergantian Wien kini telentang.

“Pijit saya Mas..!” katanya melenguh.

Kujilati payudaranya, ia melenguh. Lalu vaginanya, basah

sekali. Ia membuncah ketika aku melumat klitorisnya.

Lalu mengangkang.

“Aku sudah tak tahan, ayo dong..!” ujarnya merajuk.

Saat kusorongkan Junior menuju vaginanya, ia melenguh

lagi.

“Ah.. Sudah tiga tahun, benda ini tak kurasakan Sayang.

Aku hanya main dengan tangan. Kadang-kadang

ketimun. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum

siap. Ya sekarang..!” pintanya penuh manja.

Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depan

berdering. Kring..! Aku mengurungkan niatku. Kring..!

“Mbak Wien, telepon.” kataku.

Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Aku

mengikutinya. Sambil menjawab telepon di kursi ia

menunggingkan pantatnya.

“Ya sekarang Sayang..!” katanya.

“Halo..?” katanya sedikit terengah.

“Oh ya. Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.

“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior

amblas seluruhnya.

“Si Nina, yang tadi. Dia mau pulang dulu ngeliat orang

tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Wien.

Setelah beberapa lama menyodoknya, “Terus dong Yang.

Auhh aku mau keluar ah.., Yang tolloong..!” dia

mendesah keras.

Lalu ia bangkit dan pergi secepatnya.

“Yang.., cepat-cepat berkemas. Sebantar lagi Mbak

Mona yang punya salon ini datang, biasanya jam segini

dia datang.”

Aku langsung beres-beres dan pulang.
 

KESAMPAIAN JUGA NGESEX DENGAN CEWEK IDAMAN

Namaku aldy, ini kisah yang paling mengesankan bagiku semasa aku SMA, ya pada saat itu adalah pertama kalinya aku mengenal cewek. Sebut saja cewek itu Lia. hmhmhm sebenarnya aku adalah cowok polos, tapi semenjak bertemu Lia, aku berubah menjadi cowok yang berutal. Hmhmh kisahku ini berawal dari pesta perpisahan kelas tiga. "hai Aldy, jadi nggak kita ke rumah Lia" kata Rani ke padaku. " so pastilah ran, nggak mungkinlah aku menyia-nyiakannya" jawabku sambil meneruskan langkah meninggalkan sekolah. Singkat cerita sekarang aku sedang berada di rumah, setelah mandi, makan dan sebagainya kini aku sudah siap untuk berangkat ke rumahnya Lia. TET, TET, TET. terdengar bunyi klakson yang kayanya aku kenal mobil siapa ini. "wah udah jam setengah delapan nih, pestanyakan setengah delapan bisa telat ke rumah Lia nih" gumamku dalam hati. "huy lagi sibuk ngapain sih, kaya cewek aja dandannya lama banget" kata Rani sambil membukakan pintu mobilnya untukku. "ok deh nenek cerewet" sahut ku sambil bercanda. Mobil Honda Avanza berwana silver tersebut melaju dengan kencang membelah jalanan kota Serang, tak terasa hanya 15 menit saja kita sudah sampai di rumahnya Lia. "Hmhmh ramai juga ya aku jadi minder nih" gerutuku. "Udah deh jangan menggerutu, ayo kita masuk nanti kehabisan makanan loch" kata Rani sambil menarikku kedalam. "Hai Lia wah ngabisin dana gede-gedean nih kayanya?" tanya Rani sambil cipika cipiki, "Ya jelas dong, oh ya ngomong-ngomong kamu kesini sama saiapa jangan bilang kalau sama aldy. "tapi emang bener aku sama aldy, dia kan sahabat karibku dari kecil" jawab Rani sambil meneruskan langkahnya naik keatas tangga bersama Lia. Sementara itu aku hanya menyaksikan mereka dari jauh dan aku kelihatan kaya orang bodoh sendirian di sini. tapi di sudut ruangan yang lain ku lihat Andrew dan Margaret sedang sibuk-sibuknya berciuman, padahal dia kan pacarnya Lia, "dasar playboy awas ya aku kasih tahu Lia biar nyaho" gumamku dalam hati. Aku secepat kilat langsung melangkahkan kakiku menaiki tangga dan mencari Lia yang sedang bersama Rani. "Lia, maaf kalau aku lancang memotong pembicaraan kalian, tapi ini penting untuk kamu ketahui" Rani yang ada di sampingnya pun penasaran melihat aku kayak orang kesurupan. "Apaan sih, bikin penasaran aja kamu ini Al" tanya Lia padaku. "Begini Lia, aku tadi ngeliat Andrew dan Margaret sedang asik-asiknya berciuman di kamar bawah", jawabku dengan terbata-bata. "Wah kayaknya anak itu minta dihajar sama aku, tenang Lia aku pasti bantu kamu ngehajar tuh si playboy", sahut Rani dengan muka garangnya. "Oke deh ayo kita cek dulu kebenarannya!!!!!". Kata lia sambil melangkahkan kaki menuruni anak tangga, begitupun aku dan Rani mengikutinya dari belakang. Tak berapa lama aku Rani dan Lia sudah berada di ruangan dimana Andrew dan Margaret sedang bermesraan. "Waduh mampus deh aku, pasti Lia nyangka aku berbohong nih". Gumamku dalam hati. aku lihat mata Rani melotot ke arahku dan berkata " wah Aldy bohong nih, nggak lucu tahu leluconnya!!!". Sementara itu Lia diam saja dia tidak menunjukan ekspresi apapun kepadaku, mungkin dia pikir jika kejadian ini benar terjadi mampuslah dia soalnya emang sih si Andrew itukan bintang sekolah udah tampan, keren, bule lagi. Sedikit info saja Andrew itu adalah bule belasteran Indonesia dan Selandia Baru. Tapi tiba-tiba terdengar suara samar-samar di balik pintu kamar tamu. "Ran, kamu denger nggak suara apaan ya" Tanya Lia kepada Rani. "Ya Lia, aku denger juga, kayaknya dari balik pintu itu deh". Jawab Rani kepada Lia. "Ok dech ayo kita kesana". Ajak Lia kepada Rani dan tentu saja aku. Tangan manis Lia mulai membuka pintu itu, dan perlahan demi perlahan pintu itu terbuka dan sesuatu yang tak terdugapun mengejutkan Lia. AAAAAAAAAA jerit Lia dan langsung lari entah kemana. Sementara itu aku dan Rani penasasran dan langsung masuk kedalam kamar tersebut, alangkah kagetnya aku, melihat Andrew dan Margaret sedang ngesex bareng, Rani langsung spontanitas menghajar Andrew dan Margaret sementara itu aku melangkahkan kakiku ke luar dan langsung mencari Lia. sudut demi sudut ruangan aku geledah dan setiap orang di pesta aku tanyai semua bilang tidak tahu. Tapi ku lihat di kejauhan di seberang kolam renang di samping saung aku lihat seorang cewek sedang menangis. Kayaknya aku kenal sama cewek itu. Tidak salah lagi, itu pasti Lia. Dengan secepat kilat aku lari dan langsung menghampiri Lia. "Lia, lagi ngapain sich sendirian di sini?". "Aku sungguh lagi sedih banget nich, aku kecewa banget sama Anrew dan Margaret ko teganya mereka nusuk aku dari belakang". jawab lia kepadaku sambil meneteskan air mata dan bersandar di bahuku. "Udah deh jangan nangisin orang yang nggak bener kaya mereka" kataku kepada Lia sambil menenangkannya. "Thanks ya Aldy, ternyata kamu orangnya baik". kata Lia menyambung perkataanku sebelumnya. Akhirnya percakapan demi percakapanpun kita lalui dan akhirnya kita menjadi akrab. Dan malampun semakin larut Bulan dan Bintang pun serasa menemani kita berdua, begitupun juga suara-suara jangkrik dan serangga lainnyapun ikut menemani kita berdua. Singkat cerita sekarang sudah pagi rasa-rasanya badanku sakit semua kayak habis ditonjokin Mike Tison, aku menggeliat dan membuka mata dan alangkah terkejutnya aku setelah aku menoleh di sampingku ada Lia yang sedang tertidur pulas tanpa mengenakan sehelai kainpun yang menutupi tubuh putih mulusnya, demikian pula dengan aku sendiri ku lihat tubuhku tidak mengenakan busana malahan sekarang tombak ajaibku pun masih keras mengacung. "Aldy, kamu puas nggak main sama aku semalam"?. Tanya Lia kepadaku walaupun matanya masih merem. "Aku puas sekali Lia." jawabku dengan tersenyum lebar kepadanya. "Kamu heran ya, kenapa kita bisa ngelakuin ini semua?" Tanya Lia sekali lagi. "Ya aku cuma nggak habis pikir, ko bisa ya kamu mau tidur sama aku". jawabku sekali lagi. "Tadi malamkan emang malam yang melelahkan buat aku, Andrew tega berselingkuh di belakangku, kenapa enggak aku melakukan hal yang sama di beloakangnya biar impas, kamu nggak apakan jadi pelampiasan aku"? Tanya Lia sambil menerangkan kejadian semalam. "Aku nggak msalah jadi pelampiasan atau istilah kasarnya simpanan kamu" Jawabku dengan senang hati. Hari-hari berikutnya begitu menyenangkan bagi aku dan Lia, kami sering melakukannya seminggu sekali bahkan kadang-kadang tiap hari. Kayaknya aku sudah kecanduan banget dengan yang namanya ngesex, sampai akhirnya kami berpisah karena dia pindah ke luar negeri untuk meneruskan pendidikannya
 

Main dengan mertua asik juga bikin puas

Kenalkan, aku Panji Anugerah (nama samaran). Seorang pria berusia 37 tahun, menikah,dengan seorang wanita yang sangat cantik dan molek.Aku dikaruniai Tuhan 2 orang anak yang lucu-lucu. Rumah tanggaku bahagia dan makmur, walapun kami tidak hidup berlimpah materi.Boleh dibilang sejak SMA aku adalah pria idaman wanita.Bukan karena fisikku yang atletis ini saja, tapi juga karena kemampuanku yang hebat (tanpa bermaksud sombong) dalam bidang olahraga (basket dan voli, serta bulu tangkis), seni (aku mahir piano dan seruling) dan juga pelajaran (aku menduduki peringkat ketiga sebagai
pelajar terbaik di SMAku). Bedanya waktu di SMA dahulu,
aku tidak terlalu tertarik dengan hal-hal seperti seks dan
wanita, karena saat itu konsenterasiku lebih terfokus
pada masalah akademisku.
Bakat playboyku mulai muncul setelah aku menjadi
seorang kepala rumah tangga. Aku mulai menyadari daya
tarikku sebagai seorang pria normal dan seorang
pejantan tangguh. Sejak diangkat sebagai kabag bagian
pemasaran inilah, pikiran-pikiran kotor mulai singgah di
otakku. Apalagi aku juga hobi menonton film-film biru.
Wanita lain yang sempat hadir dihatiku adalah Maya. Dia
adalah rekan kerjaku, sesama pegawai tapi dari jurusan
berbeda, Accounting. Dia berasal dari Surakarta, tinggal
di Bandung sudah lama. Kami sempat menjalin hubungan
gelap setahun setelah aku menikah dengan Lilis, istriku.
Hubungan kami tidak sampai melakukan hal-hal yang
menjurus kepada aktivitas seksual. Hubungan kami hanya
berlangsung selama 6 bulan, karena dia pindah ke lain
kota dan dinikahkan dengan orang tuanya dengan pria
pilihan mereka. Dasar nasib!!! Niatku berpoligami hancur
sudah. Padahal aku sudah berniat menjadikannya istri
keduaku, walau istri pertamaku suka atau tidak. Karena
frustasi, untuk beberapa bulan hidupku terasa hampa.
Untungnya sikapku ini tidak bertahan lama, karena di
tahun yang sama aku berkenalan dengan seorang teman
yang mengajariku gaya hidup sehat, bodybuilding.
Saat itu, sekitar tahun 1998, yang namanya olahraga
fitness, bukanlah suatu trend seperti sekarang.
Peminatnya masih sedikit. Gym-gympun masih jarang.
Sejujurnya aku malas berbodybuilding seperti yang
dilakukan temanku itu. Apalagi saat itu sedang panas-
panasnya isu politik dan kerusuhan sosial. Belum lagi
adanya krismon yang benar-benar merusak perekonomian
Indonesia. Untungnya perusahaan tempatku bekerja
cukup kuat bertahan badai akibat krismon, hingga aku
tidak turut diPHK. Namun temanku yang sangat baik itu
terus memotivasiku, hingga tak sampai 3 bulan, aku yang
tadinya hanya seorang pria berpostur biasa-biasa saja-
walaupun aku bertubuh atletis, menjadi seorang atlet
bodybuilding baru yang cukup berprestasi di kejuaraan-
kejuaraan daerah maupun nasional. Hebatnya lagi
kantorku dan seluruh keluargaku ikut mendukung semua
aktivitasku itu. Kata mereka ”kantor kita punya Ade Rai
baru, hingga kita tidak perlu satpam atau bodyguard
baru” suatu anekdot yang sudah menjadi santapanku
berhari-hari.
Semakin berlalunya waktu, aktivitas bodybuilderku
kukurangi. Apalagi aku sudah diangkat menjadi kabag
pemasaran sekarang, di mana keuntungan mulai berpihak
pada perusahaan tempatku bekerja. Aku mulai bertambah
sibuk sekarang. Namun untuk menjaga fisikku agar tetap
bugar dan prima, aku tetap rutin basket, voli, dan
bersepeda. Hanya 2 kali seminggu aku pergi ke tempat
fitness. Hasilnya tubuhku tetap kelihatan atletis dan
berotot, namun tidak sebagus ketika aku menjadi atlet
bodybuilding dadakan.
Sewaktu aku menjadi atlet bodybuilding, banyak wanita
melirikku. Beberapa di antaranya mengajakku berkencan.
Tapi karena saat itu aku sedang asyik menekuni olahraga
ini, tanggapan dan godaan mereka tidak kutanggapi.
Salah satu yang suka menggodaku adalah Mia. Dia adalah
puteri tetangga mertuaku. Baru saja lulus SMA, dan dia
akan melanjutkannya ke sebuah PTn terkenal di kota
Bandung. Gadis itu suka menggoda di setiap mimpiku dan
bayangannya selalu menghiasi pikiranku saat aku
menyetubuhi istriku. Kisahku dengan Mia akan
kuceritakan lain waktu.
Seperti biasanya, aku bangun pagi. Pagi itu aku bangun
pukul 04.30 pagi. Setelah cuci muka, aku mulai berganti
pakaian. Aku akan melakukan olahraga pagi. Udara pagi
yang sehat memang selalu memotivasiku untuk jogging
keliling kompleks perumahanku. Dengan cuek aku memakai
baju olahraga yang cukup ketat dan pas sekali ukurannya
di tubuh machoku ini. Kemudian aku mengenakan celana
boxer yang juga ikut mencetak pantatku yang seperti
dipahat ini. Aku sengaja bersikap demikian demi
mewujudkan impianku, menggoda Mia dengan keindahan
tubuhku. Menurut kabar, dia juga suka jogging. Niatku
bersenang-senang dengan Mia memang sudah lama
kupendam. Namun selama ini gadis itu selalu membuatku
gemas dan penasaran. Dia seperti layangan yang
diterbangkan angin, didekati menjauh, dijauhi mendekat.
Tak berapa lama jogging, tubuhku pun sudah mulai
keringatan. Peluh yang membasahi kaus olahragaku,
membuat tubuh kokoh ini tercetak dengan jelas. Aku
membayangkan Mia akan terangsang melihatku. Tetapi
sialnya, pagi itu tidak ada tanda-tanda Mia sedang
berjogging. Tidak kelihatan pula tetanggaku lainnya yang
biasa berjogging bersama. Padahal aku sudah berjogging
sekitar 30 menit. Saat itu aku baru sadar, aku bangun
terlalu pagi. Padahal biasanya aku jogging jam 06.00 ke
atas. Dengan perasaan kecewa aku balik ke rumah
mertuaku. Dari depan rumah itu tampak sepi. Aku
maklum, penghuninya masih tertidur lelap. Tadi pun saat
aku bangun, tidak terdengar komentar istriku karena dia
sedang terlelap tidur setelah semalaman dia menemani
anakku bermain playstation. Saat aku berjalan ke arah
dapur untuk minum, aku melihat ibu mertuaku yang seksi
itu sedang mandi. Tampaknya dia sudah bangun ketika
aku berjogging tadi.
Kamar mandi di rumah mertuaku memang bersebelah-
sebelahan dengan dapurnya. Setiap kali anda ingin
minum, anda harus melewati kamar mandi itu. Seperti
disengaja, pintu kamar mandi itu dibiarkan sedikit
terbuka, hingga aku bisa melihat bagian belakang tubuh
molek mertuaku yang menggairahkan itu dengan jelas.
Mertuaku walaupun usianya sudah kepala 4, tapi masih
kelihatan seksi dan molek, karena dia sangat rajin
merawat tubuhnya. Dia rajin senam, aerobik, body
language, minum jamu, ikut diet sehat, sehingga tak
heran tubuhnya tidak kalah dengan tubuh wanita muda
usia 30-an.
Melihat pemandangan syur itu, kontan batangku
mengeras. Batang besar, panjang, dan keras itu ingin
merasakan lubang hangat yang nikmat, basah, dan
lembab. Batang itu juga ingin diremas-remas, dikulum,
dan memuncratkan pelurunya di lubang yang lebih sempit
lagi. Sambil meremas-remas batangku yang sudah mulai
tegak sempurna ini, kuperhatikan terus aktivitas mandi
mertuaku itu. Akhirnya timbul niatku untuk
menggaulinya. Setelah menimbang-nimbang untung atau
ruginya, aku pun memutuskan nekat untuk ikut
bergabung bersama ibu mertuaku, mandi bersama.
Kupeluk dia dari belakang, sembari tanganku
menggerayang liar di tubuh mulusnya. Meraba mulai dari
leher sampai kemaluannya. Awalnya ibu mertuaku kaget,
tetapi setelah tahu aku yang masuk, wajah cantiknya
langsung tersenyum nakal.
”Panji, nakal kamu” katanya sambil balas memelukku. Dia
berbalik, langsung mencium mulutku. Tak lama kami sudah
berpagut, saling cium, raba, dan remas tubuh masing-
masing. Dengan tergesa kubuka bajuku dibantu mertuaku
hingga aku sudah bertelanjang bulat. Batangku pun
mengacung tegang, besar, dan gagah.
Kami pun melakukan pemanasan sekitar 10 menit dengan
permainan oral yang nikmat di batangku, sebelum
kemaluannya kutusuk dengan batangku. Permainan birahi
itu berlangsung seru. Aku menyetubuhinya dalam posisi
doggy style. Aku merabai payudaranya yang kencang itu,
meremas-remasnya, mempermainkan putingnya yang
sudah mengeras. 30 menit berlalu, ibu mertuaku sudah
sampai pada puncaknya sebanyak 2 kali. 1 kali dalam
posisi doggy, 1 kali lagi dalam posisi berhadap-hadapan di
dinding kamar mandi. Namun sayangnya, batangku masih
saja mengeras. Aku panik karenanya. Aku khawatir jika
batangku ini masih saja bangun sementara hari sudah
mulai pagi. Aku khawatir kami akan dipergoki istriku.
Rupanya mertuaku mengerti kepanikanku itu. Dia kembali
mengoral batangku yang masih bugar dan perkasa ini, lalu
dia berbisik mesra,
”Jangan khawatir panji sayang, waktunya masih lama”
katanya nakal.
Aku bingung mendengar ucapannya, tapi kubiarkan
aktivitasnya itu sambil terus mendesah-desah nikmat.
Tiba-tiba ibu mertuaku menghentikan perbuatannya itu.
Dia langsung berdiri. Melihat itu, aku pun protes,
”Lho, bu, aku khan belum keluar?” suaraku parau, penuh
birahi.
”Sabar sayang, kita lanjut di kamarku saja yuk” katanya
mesra.
Aku pun tambah bingung. ”Tapi khan ada bapak?” suaraku
masih saja parau, karena birahi.
”Tenang saja, bapakmu itu sudah pergi tak lama setelah
kamu jogging tadi, dia ada tugas ke Jawa” sahut ibu
mertuaku sambil mengemasi pakaian olahragaku yang
tercecer di kamar mandi dan kemudian menggandengku ke
arah kamarnya. Begitu sampai di kamarnya, aku
disuruhnya telentang di ranjang, sementara dia mengelap
sisa-sisa air, keringat, dan sabun di tubuhnya dengan
handuk kering yang sudah ada di kamarnya. Lalu dia
melakukan hal yang sama padaku. Setelah itu dia
langsung saja mengambil posisi 69, mulai mengoral
batangku kembali. Tak lama nafsuku pun bangkit kembali.
Kali ini aku bertekad akan membuat mertuaku keluar
sampai tiga kali. Aku memang khawatir hubunganku di
pagi ini akan ketahuan istriku, tapi persetanlah…que
sera-sera. Apapun yang akan terjadi terjadilah.
Aku pun balik menyerang ibu mertuaku. Mulut dan lidahku
dengan ganas mempermainkan miliknya. Tanganku juga
ikut aktif merabai, meremasi bibir kemaluan dan menusuki
lubang anal ibu mertuaku. Kelentitnya yang sudah
membengkak karena rangsangan seksual kujilati, dan
keremasi dengan gemas. Kumainkan pula apa yang ada di
sekitar daerah kemaluannya. Gabungan remasan jari,
kobokan tangan di kemaluannya, dan serangan lidahku
berhasil membuat mertuaku keluar lagi untuk yang ketiga
kalinya. ”Aaaaahhhh…. panji sayang ….” jerit nikmat
ibu mertuaku. Cairan birahi ibu mertua keluar deras dari
lubang vaginanya. Langsung saja kuhisap dan kutelan
habis hingga tidak ada yang tersisa.
Akupun tersenyum, lalu aku merubah posisiku. Tanpa
memberikan kesempatan ibu mertuaku untuk beristirahat,
kuarahkan batangku yang masih bugar dan perkasa ini ke
arah vaginanya, lalu kusetubuhi dia dalam posisi
misionaris. Kurasakan batangku menembus liang vagina
seorang wanita kepala 4 yang sudah beranak tiga, tapi
masih terasa kekenyalan dan kekesatannya. Tampaknya
program jamu khusus organ tubuh wanita yang dia minum
berhasil dengan baik. Miliknya masih terasa enak dan
nikmat menggesek batangku saat keluar masuk.
Sambil menyetubuhi ibu mertuaku, aku mempermainkan
buah dadanya yang besar dan kenyal itu, dengan mulut
dan tanganku. Kuraba-raba, kuremas-remas, kujilat,
kugigit, sampai payudara itu kemerah-merahan. Puas
bermain payudara tanganku mempermainkan kelentitnya,
sementara mulutku bergerilya di ketiaknya yang halus
tanpa bulu, sementara tangan satunya masih
mempermainkan payudaranya. Tangan ibu mertuaku yang
bebas, meremas-remas rambutku, dan mencakar-cakar
punggungku. Posisi nikmat ini kami lakukan selama
bermenit-menit, hingga 45 menit kemudian ibu mertuaku
mencapai orgasmenya yang keempat. Setelah itu dia
meminta istirahat. Aku sebenarnya malas mengabulkan
permintaannya itu, karena aku sedang tanggung, hampir
mencapai posisi puncak. Namun akhirnya aku mengalah.
”Panji kamu hebat banget deh, kamu sanggup membuat
ibu keluar sampai empat kali” puji ibu mertuaku.
”Aah ibu bisa saja deh” kataku merendah.
”Padahal kamu sudah jogging 45 menit, tapi kamu masih
saja perkasa” lanjut pujiannya.
”Itukan sudah jadi kebiasaanku, bu” aku berkata yang
sebenarnya.
”Kamu benar-benar lelaki perkasa, Lilis beruntung
mendapatkanmu” puji mertuaku lagi.
Lalu kami bercakap-cakap seperti biasanya. Sambil
bercakap-cakap, tangan ibu mertuaku nakal bergerilya di
sekujur tubuhku. Terakhir dia kembali mempermainkan
batangku yang sudah mengerut ukurannya.
Aku bangkit, lalu beranjak dari tempat tidur. Ibu
mertuaku memandangku heran, dikiranya aku akan keluar
dari kamarnya dan mengakhiri permainan cinta kami. Tapi
kutenangkan dia sambil berkata, ”Sebentar bu, aku akan
mengecek keadaan dulu”. Aku memang khawatir, aku
takut istri dan anakku bangun. Dengan cepat kukenakan
kembali pakaian olahragaku dan keluar kamar mertuaku.
Ternyata dugaanku salah. Hari memang sudah beranjak
pagi, sekitar jam 6.15 menit, tapi istri dan anakku belum
juga bangun. Penasaran kuhampiri kamarku dan kamar
tempat anakku tidur. Ternyata baik anak maupun istriku
masih tertidur lelap. Aku lega melihatnya. Sepertinya
permainan playstation semalam, berhasil membuat mereka
kolaps. Aku mendatangi jam weker di kamar keduanya,
lalu kustel ke angka 9 pagi.
Aku menatap wajah istriku yang tertidur penuh
kedamaian, sambil berkata dalam hati, ”Tidurlah yang
lama sayang, aku belum selesai menikmati tubuh ibumu”
lalu mengecup pipinya. Setelah itu, aku kembali ke kamar
mandi, mencuci tubuhku, lalu balik lagi ke kamar
mertuaku. Kami terlibat kembali dalam persetubuhan
nikmat lagi. Dalam persetubuhan terakhir ini, aku dan ibu
mertuaku sama-sama meraih orgasme kami bersama dalam
posisi doggy anal. Sesudahnya aku balik ke kamar istriku,
setelah membersihkan diri di kamar mandi untuk yang
terakhir kali, dan kemudian mengenakan baju tidurku
kembali.
Begitulah cerita seksku dengan Ibu mertuaku di suatu
pagi hari yang indah. Tidak ada Mia, ada Arini, mertuaku
yang molek dan menggairahkan.
 

AYAHKU NAKAL MEMBUATKU JADI BINAL

Hari minggu.. ketika itu seluruh keluarga tidak melakukan aktivitas rutin seperti biasanya, ibu : “debora, ibu mau arisan.. di antar sama adik, kamu jaga rumah ya..” aku : “ia ibu ku sayang, debora dirumah aj koq” ibu : “ooo.. ya sudah, jangan lupa ayah buatkan kopi ya debora” aku : okeh, bu!!!, jawab ku kepada ibu tak lama, ibu sudah meninggalkan kami berdua, dirumah hanya ada ayah, dan aku..,, ku buat kan secangkir kopi hangat di dapur untuk ayah sesuai arahan ibuku tercinta.. aku: “yah ini kopi nya”, ujar ku sambil mengaduk-aduk kopinya. ayah : “terimakasih anakku sayang,” jawab ayah dengan sedikit melihat kearah payudara aku. aku kaget sekali, ketika ayah menengok ke arah payudaraku, saat itu pakaian ku hanya menggunakaan baju tengtop dan celana pendek pantai, tak ku hiraukan lagi kejadian itu, lalu aku masuk ke kamar. Di kamar, aku berniat ingin menghubungi pacar aku.. aku: hallo sayang, kamu dimna ni pacar: dirumah, lagi bangun tidur, yank aku mimpiin kamu loh, aku: akh, masa sih sayang pacar: ia yg, kamu terlihat sexy di dalam mimpi ku, yang ayo kita “main” aku : ayo sayang, mumpung dirumah gda siapa2, si ayah mau ke kebon kaya nya. pacar: wah, kesempatan sayang, disini juga kosong. tak lama, kami seperti biasa ingin menyalurkan hasrat kami dengan melakukan hubungan sex jarak jauh via telepon, ini agar mengobati kangen kami, aku: yank, aku lagi puter2, enak bgt yg.. cepet pulang donk, biar kita maen suntik2an lagi.. pacar: ia syg, aku juga pengen bgt pulang, tapi gmna jadual blm pas ni sambil teleponan, aku meraba klitoris ku.. sedikit demi sedikit.. aku putar dengan gerakan yang lembut dan khas.. sambil membayangkan bahwa pacar aku yang memutar2kan clitoris aku.. sedikit demi sedkit pakaian aku di copot dari tubuh aku.., agar gerak-gerik aku lebih leluasa dalam memainkan tubuh aku sendiri. “ehuem”, suara keras terdengar dari luar sana.. , ternyata itu adalah suara ayah aku.. o0ooo tidak, aku rupanya lupa menutup pintu kamar.., posisi aku saat itu sedang melakukan gaya WOT dengan guling kesayangan yang aku salalu diperkosa setiap malam tiba. ayah: hayooooo… lagi ngapain deb.. aku : gak yah, lagi iseng aj ayah : o0ooooo, lagi iseng ya,, ayah nguping kamu loh, saat kamu teleponan tadi.., o0ooo… tidak, muka aku saat itu menjadi merah, jantung aku berdegup sangat cepat.., dalam hati berbicara “aduh mampus gue”. ayah : gak apa koq syg, ayah juga ngerti.. ya gmna lagi, kamu kan pcaran jarak jauh, ya sewajarnya kaya gtu. aku : o0ooo, kira ayah marah saaat itu juga wajah aku awalnya merah, sekarang menjadi putih normal kembali, dan expresi wajah aku sudah cerah ..,lega mendengar bahwa ayah tidak marah. ayah yang dari luar kamar, segera menghampiri aku yang berada di tempat tidurku.. ayah : yuk sebentar temani ayah.. aku: kemana yah? dengan paksa ayah menarik aku ke kemar yang sering dipakai untuk tidur antara ayah dan ibu., tubuhku masih dalam keadaan telanjang sambil memegang HP. ayah: ini syg, akhir2 ini.. kamu cantik bgt, ayah melihat seperti ibu mu masih muda.., aku: aduh ayah, udah akh!,, dingin ni.. ayah: kalo dingin ntar ayah hangatkan ya?? aku: jangan macam2 ayah ni, bilangin ibu ntr???!!! ayah : “ayah juga bakal bilang ama ibu, debora suka maen guling..,hehe”, jawab ayah nakal. ketika ayah mengucapkan “kalo dingin ntr ayah angetin ya”, aku sangat syok sekali, baru kali ini ayahku berbicara ngawur kepada ku. aku sangat salah tingkah, bagaimana ini.. dilema.. sebagai anak. ayah: ayo deb.. ayah gak bilang siapa2 koq, mumpung rumah lagi sepi aku pun berpikir sejenak.. dengan rasa takut.. dan pasrah.. # deb, maafkan ayah…. Kamu jangan marah seperti itu dong, sayang….!!” Ia malah berkata seperti itu, bukannya malu karena perlakuannya. “Ayah nggak boleh begitu, deb mohon kpd ayah….!!”, pintaku menghiba, karena kulihat tatapan mata ayahku demikian liar sambil tangannya tak berhenti menggerayang ke sekujur tubuhku yang hanya di balut selimut dari kamar ibuku. Aku mencoba menggeliat bangun dan buru-buru menjauhi ayah dan untuk menutupi tubuhku mepet ke ujung ranjang. Akan tetapi ayahku makin mendesak maju menghampiriku dan duduk persis di sampingku. Tubuhnya mendekap kepadaku. Aku semakin ketakutan. “deb… Kamu nggak kasihan melihat ayah seperti ini? Ayolah, ayah kan sudah lama merindukan untuk bisa menikmati badan debora yang langsing padat ini….!!!!”, desaknya. “Jangan berbicara begitu. Ingat Yah… kasian ama ibu ?”, jawabku mencoba menyadarinya. Jangan menyebut-nyebut ibu saat ini, ayah sangat cinta kepada debora, mengingatkan ayah pada saat ibu mu masih muda.. tak lama, ayah tersenyum melihatku tidak melarangnya lagi. Ia dengan lembut dan hati-hati mulai meremas-remas kedua payudara.. yang mudah diremas, karena aku tidak mengunakan pakaian sehelaipun. Sebagai wanita normal, aku merasakan kenikmatan juga atas remasan ini. mengingatkan ku juga ketika bercumbu dengan kekasihku dulu. akhirnya aku pun, membiarkan dan pasrah dengan remasan ayah di dadaku. aku mulai terpengaruh oleh keadaan ini. Meski dalam hati aku sudah bertekad untuk menahan diri dan melakukan semua ini demi kebaikan diriku juga. dengan lihainya dan tanpa kusadari ayah sudah membuka pakaiannya dan sudah membalikkan tubuhku hingga berlawanan dengan posisi tubuhnya. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku. Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Tak lama kemudian kurasakan sentuhan lembut di seputar selangkanganku. Suka tidak suka, mau tidak mau, kurasakan kenikmatan cumbuan ayahku di leher belakangku. Akh luar biasa! Aku menjerit dalam hati sambil menyesali diri. Aku marah pada diriku sendiri, terutama pada tubuhku sendiri yang sudah tidak mau mengikuti perintah pikiran sehatku. Tubuhku meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidah ayahku. Kedua pahaku mengempit muka ayah seolah ingin menutupi ke dalam selangkanganku. Kuakui ia memang pandai membuat birahiku memuncak mengalahkan kehebatan pacarku. Kini aku sudah lupa dengan siasat semula. Aku sudah terbawa arus. Aku malah ingin mengimbangi permainannya. tanganku menggenggam batang ayah dengan erat walau dengan rasa malu-malu. Ku arahkan batang kemaluan ayahku kearah wajahku, kemudian kumasukan kedalam mulutku, Mulutku bermain dengan lincah. Yang ahirnya Batangnya ia kempit dengan buah dadaku yang di idola-idolakan pacarku itu. Sementara batang itu bergerak di antara buah dadaku, mulutku tak pernah lepas mengulumnya. Tanpa kusadari kami saling mencumbu bagian vital masing-masing selama lima belas menit. Aku semakin yakin kalau ayahku memakai obat kuat yang dimasukan kedalam kopinya. karna Ia sama sekali belum memperlihatkan tanda-tanda akan keluar, Seketika, ku arahkan batang ayahku kedalam iyem yang sangat menderita karena sudah 6 bulan tidak merasakan batang ukuran yang lebih besar dari pacarku. Diriku tidak terknedali lagi, karena nikmat yang membuat kmaluan ku bergetar –getar. “aYah..?” panggilku menggoda. “Apa sayang…”, jawabnya seraya tersenyum melihatku tersiksa dengan nafsuku. “Cepetan..yaaahhhhh…….!!!” “Sabar sayang. Kamu ingin ayah berbuat apa…….?” “lusi….iiii… iiiingiiinnnn aaa…aaayahhhh….se….se.. seeegeeeraaaa ma… masukin..!!!”, kataku terbata-bata dengan terpaksa. Aku sebenarnya sangat malu mengatakan ini. Aku yang tadi begitu ngotot tidak akan memberikan tubuhku padanya, kini malah meminta-minta. “Apanya yang dimasukin…….!!”, tanyanya lagi seperti mengejek. “Aaaaaaggggkkkkkhhhhh…..ya…yaaaahhhh. Ja…..ja….Jaaangan siksa anakmu ni..!!!” “ayah tidak bermaksud menyiksa kamu sayang……!!” “Oooooohhhhhh.., Yaaaahhhh… debo ingin dimasukin kontol ayah ke dalam memek debora…… uugghhhh..!!!” Aku kali ini sudah tak malu-malu lagi mengatakannya dengan vulgar saking tak tahannya menanggung gelombang birahi yang menggebu-gebu. Aku hampir tak percaya mendengar ucapan itu keluar dari bibirku sendiri. Akhirnya batang ayah sedikit demi sedikit tertancap di dalam ms.v ku yang masih rapat. “Ooohh… oohhhh… oooouugghh.. debora.., luar biasa…..!!!” jerit ayahku merasakan hebatnya permainanku. Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan ayahku mencengkeram kedua buah dadaku, diremas dan puter-puter. Aku mengambil sesuatu di dalam laci yaitu colkat, kemudian ku olesi di kedua payudaraku. Ia lalu bangkit setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke atas dadaku. Menjilat-jilat seluruh permukaan dadaku yang aku taburi coklat coki-coki tersebut. ayah Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas menyedot coklat yang masih mengotori tubuhku. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Aku tidak lagi merasakan dinginnya udara meski awalnya aku kedinginan. Tubuh kami mulai berkeringat, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk pinggulku. ayahku menggoyangkan pantatnya. Kurasakan tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permain kami semakin meningkat dahsyat. Sprei ranjang ibu sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Kurasakan ayah mulai memperlihatkan tanda-tanda. Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Mungkin goyangan pinggulku akan membuat iri pacarku disana. Tak selang beberapa detik kemudian, aku pun merasakan desakan yang sama. Kuingin ia pun merasakannya. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku sudah tak perduli suaraku akan terdengar keluar sana. ayahku mulai mengejang-ngejang. “Eerrgghh.. ooooo….ooooooo…..oooooouugghhhhhh..!!!!” ayahku berteriak panjang. Lalu dia keluarkan batangnya di arahkan dekat payudarahku.. seketika keluar lah cairan putih memuncrat di kedua payudaraku. Aku pun berpikir sejenak “ ini adalah cairan yang membuat aku ada disini bersama kdua saudaraku juga. Akhirnya permianan kami telah selesai. Aku memakaikan baju ayah. “Deb.. pokoknya pas kau kerja ayah bakal berikan kamu hadiah mobil, agar kamu senang”, ujar ayah saat itu juga “Masih saying… ups, ayahku sayang, pokoknya ntr kalo ada mobil debo.. janji gak akan bilang kejadian ini ke siapapun” jawabku kepada ayah “Hahhaha.. bias aja ni kamu,” jawab ayah sambil tersenyum “Ayah, pinjem mobil item ya?” Tanya ku kepada ayah “pake deh sana, main sana.. biar gak ada yang curiga” ayah pun menjawab sambil memberikan kunci mobilnya “Makasih ya yah”,, ujarku sambil mencium pipi ayah Aku pun berpakaian rapih, dan mulai menuju rumah temanku yang kira2 berjarak kurang lebih 3Km.. Setiba disana, Tampa sadar, ternyata HP ku tertinggal dikamar ibu.. yang seingat saya.. masih dalam kondisi terhubung dengan pacar saya..
 

Cara Mendapatkan Dollar Di Adf.Ly (100% Membayar, Pasti Untung)




Beberapa hari yang lalu saya daftar ke adf.ly dan share tentang cara mendapatkan dollar di adf.ly.
Kurang dari satu bulan alhamdulillah Blog saya sudah mendapatkan bayaran dari adf.ly pada tgl 8 mei2013 kemarin.
Buat blog Mania yang belum bergabung, segeralah daftar.
Untuk petunjuk cara pendaftarannya akan di jelaskan lebih lanjut dalam artikel dibawah ini.


cara pendaftarannya ???
Cara nya sangat mudah, Berikut caranya:
1. Untuk mendaftar klik Disini

2. Klik "Join Now"
 

demi uang aku jual perawanku dengan puas


Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.

Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.

Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.
Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:

” Maaf, nona … Apakah anda sedang menunggu seseorang? ”
” Tidak! ” Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
” Lantas untuk apa anda duduk di sini?”
” Apakah tidak boleh? ” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam..
” Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”
” Maksud, bapak? ”
” Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ”
” Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual ” Kata wanita itu dengan suara lambat.
” Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini? ”
Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.
” Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. ”
” Saya ingin menjual diri saya, ” Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
” Mari ikut saya, ” Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.

Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.
Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.

” Apakah anda serius? ”
” Saya serius ” Jawab wanita itu tegas.
” Berapa tarif yang anda minta? ”
” Setinggi-tingginya. .’ ‘
” Mengapa?” Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
” Saya masih perawan ”
” Perawan? ” Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini..
Pikirnya
” Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”
” Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan.. Ya kan …”
” Kalau tidak terbukti? ”
” Tidak usah bayar …”
” Baiklah …” Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.
” Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. ”
” Cobalah. ”
” Berapa tarif yang diminta? ”
” Setinggi-tingginya. ”
” Berapa? ”
” Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa? ”
” Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya. ”
Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.
Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.
” Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana? ”
” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”
” Ini termasuk yang tertinggi, ” Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
” Saya ingin yang lebih tinggi…”
” Baiklah. Tunggu disini …” Petugas satpam itu berlalu.
Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.
” Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana? ”
” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”
” Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap
saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh … ”
” Saya ingin tawaran tertinggi … ” Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.
” Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit.
Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. ” Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.
Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.
Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.
” Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? ” Kata petugas satpam itu dengan sopan.
Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu …
” Berapa? ” Tanya pria itu kepada Wanita itu.
” Setinggi-tingginya ” Jawab wanita itu dengan tegas.
” Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? ” Kata pria itu kepada sang petugas satpam.
” Rp.. 6 juta, tuan ”
” Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. ”
Wanita itu terdiam.
Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.
” Bagaimana? ” tanya pria itu.
”Saya ingin lebih tinggi lagi …” Kata wanita itu.
Petugas satpam itu tersenyum kecut.
” Bawa pergi wanita ini. ” Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.
” Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual? ”
” Tentu! ”
” Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu … ”
” Saya minta yang lebih tinggi lagi …”
Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang.
Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.
” Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya. ”
Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.
” Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah.
Apakah itu tidak cukup? ” Terdengar suara pria itu berbicara.
Wajah pria itu nampak masam seketika
” Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu.
Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ”
Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita.
Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu.
Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: ” Pak, apakah anda butuh wanita … Huh ”
Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.
” Ada wanita yang duduk disana, ” Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.
Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.
“Dia masih perawan..”
Pria itu mendekati petugas satpam itu.
Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. ” Benarkah itu? ”
” Benar, pak. ”
” Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu … ”
” Dengan senang hati. Tapi, pak …Wanita itu minta harga setinggi tingginya.”
” Saya tidak peduli … ” Pria itu menjawab dengan tegas.
Pria itu menyalami hangat wanita itu.
” Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah ….” Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.
” Mari kita bicara di kamar saja.” Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.
Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.
Di dalam kamar …
” Beritahu berapa harga yang kamu minta? ”
” Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ”
” Maksud kamu? ”
” Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih …. ”
” Hanya itu …”
” Ya …! ”
Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.
” Siapa nama kamu? ”
” Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar … ” Kata wanita itu
” Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. ”
”Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ”
” Ada ! ” Kata pria itu seketika.
” Sebutkan! ”
” Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit.
Dan sekarang pulanglah … ” Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.
” Saya tidak mengerti …”
” Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar …”
” Dan, apakah bapak ikhlas…? ”
” Apakah uang itu kurang? ”
” Lebih dari cukup, pak … ”
” Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ”
” Silahkan …”
” Mengapa kamu begitu beraninya … ”

” Siapa bilang saya berani. Saya takut pak …
Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal.
Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu.
Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` … Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan … ”
” Keyakinan apa? ”

” Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita … ” Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar.
Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:
” Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini … ”
” Kesadaran… ”
.. . .
Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.
” Kamu sudah pulang, nak ”
” Ya, bu … ”
” Kemana saja kamu, nak … Huh”
” Menjual sesuatu, bu … ”
” Apa yang kamu jual?” Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum …
Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang
gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan
….
” Kini saatnya ibu untuk berobat … ”
Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: ” Tuhan telah membeli yang saya jual… ”.
Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata
kepada supir taksi: ” Antar kami kerumah sakit …”
 
 
Support : Gratis berat | Jancok | bagus cuy
Copyright © 2011. KUMPULAN MACAM CERITA SEX - All Rights Reserved
Template Created by Cerita Seks indo Published by sex oh Seks
Proudly powered by Blogger